Sabtu, 04 Agustus 2012

PZL TS-8 Bies

Pesawat TS-8 Bies dibuat untuk menggantikan pesawat latih AU Polandia Junak 3 & Yak-11. Pesawat ini juga merupakan pesawat pertama yang dibuat Polandia setelah PD2. Desain semi monokok & tubuh pesawat yang ditutupi dengan metal serta mesin 7 silinder, namun baling-balingnya masih menggunakan kayu.


Dirancang oleh Tadeusz Soltyk (inisialnya dijadikan nama depan pesawat ini). Mulai digarap th. 1953, kemudian prototipenya pertamanya terbang perdana pada 23 Juli 1955, prototipe keduanya tampil pada Paris Air Show 1957. 3 buah prototipe dihasilkan.

Pada tahun yang sama dibuat 10 pesawat eksperimental dengan julukan resmi TS-8 BI. Kemudian disempurnakan kembali, diberi kode TS-8 BII, kemudian diproduksi secara massal di Mielec-WSK mulai 1958 s/d 1960, total angka produksi hingga 231 unit, 2 diantaranya dikirim ke Indonesia. 



Sebelum dihentikan produksinya, PZL berusaha meningkatkan peforma pesawat tsb melalui peningkatan sistem avionik & versi ini dijuluki TS-8 BIII. Versi ini hanya dibuat 10 unit saja.

Walau diberi julukan Bies, yang dalam bahasa Polandia berarti iblis, namun wujud peswat ini tidak menyeramkan. Pesawat ini memang tidak pernah dilengkapi dengan senjata namun pernah ada satu unit yang dilengkapi senapan mesin 12,7 mm & gantungan di sayapnya untuk membawa bom kecil.


Kinerja yang baik & serta perawatannya tidak rumit, namun penggunanya hanya AU Polandia. Pesawat tsb ditarik dari dinas penerbangan pertengahan 1960-an, kemudian dihibahkan ke klub-klub aerosport yang dioperasikan hingga 1978. Oleh AU Polandia kemudian digantikan oleh PZL TS-11 Iskra.

Indonesia merupakan pengguna satu-satunya diluar Polandia. TNI AU pernah mengoperasikan TS-8 BII, bersamaan dengan helikopter SM-1 serta MiG-17 (Lim-5) dari Polandia sejak tahun 1958-1959. TNI AU menggunakan TS-8 BII untuk menggantikan pesawat latih AT-16 Harvard. Namun akhirnya terpilihlah pesawat latih Beechcraft T-34 Mentor. Tapi masih ada satu pesawat yang tersimpan dengan baik di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta.



SPESIFIKASI 


Awak: 2 (instruktur dan murid)
Panjang: 8.55 m
Rentang Sayap: 10.5 m
Tinggi: 3.0 m
Berat kosong: 1,292 kg 
Max takeoff weight: 1,672 kg
Mesin: 1× Narkiewicz WN-3 7-cylinder radial engine, 330 hp
Kecepatan Max: 315 km/h
Jarak tempuh: 620 k
Ketinggian terbang: 5,900 m


Sumber: http://arc.web.id/artikel/69-pesawat-tempur/105-pzl-ts-8-bies-setan-yang-tidak-menyeramkan.html

Mikoyan Guryevich MiG-21


Perang Dingin antara Blok Barat & Blok Timur merupakan ajang antar negara untuk saling berlomba menciptakan alat-alat perang yang andal & ampuh, mulai dari senapan hingga bom nuklir yang mampu meluluhlantakkan suatu wilayah dengan sekejap. Hal tersebut merupakan daya ukur bagi siapa diantara mereka yang paling kuat.


Tak terkecuali matra udara. Pertempuran udara di Perang Korea (MiG-15 Soviet vs F-86 AS) dan Perang Vietnam (MiG-17 & MiG-19 Soviet vs F-4 Phantom AS) merupakan hasil dari persaingan produksi jet tempur yang ampuh untuk merontokkan lawan.





Persaingan tersebut mencapai puncaknya pada 1956, ketika Soviet memproduksi jet tempur baru bernama MiG-21. Oleh NATO diberi kode Fishbed. Kehadirannya mampu merontokkan  bomber serta jet tempur AS. 


MiG-21 dibuat oleh Mikoyan-Guryevich Design Bureau pada 1955, memang diciptakan sebagai fighter-interceptor yang tangguh. Teknologinya merupakan pengembangan dari MiG sebelumnya, yakni MiG-19. Prinsipnya, MiG-21 merupakan pesawat yang mudah dikontrol, beratnya enteng, manuvernya lincah, & mampu diproduksi massal. 


Prototype awal MiG-21 bernama Ye-6 mengalami kegagalan saat ujicoba terbang. 1957, MiG-21 berhasil diproduksi namun belum bisa mengagetkan NATO karena ujicoba senjata & teknologi yang belum akurat. Perbaikan yang dilakukan terhadap MiG-21 membuatnya kemudian tampil  di ajang Perang Vietnam sebagai fighter penebar maut.




Kesuksesannya di Vietnam membuat MiG-21 diproduksi massal & dioperasikan 46 negara, termasuk Indonesia. Varian-varian lain yang diproduksi hingga 20 unit, angka produksinya bahkan menembus 10.000 unit, membuat populasinya tersebar hampir diseluruh penjuru dunia.


MiG-21 mampu terbang hingga ketinggian 60.000 kaki. MiG-21 mampu menyergap pesawat musuh dengan akurat sebab kecepatannya yang mencapai Mach 2. Hal tersebut membuat MiG-21 tampil dalam segala ajang tempur, mulai Perang Vietnam sampai konflik Timur Tengah.


MiG-21 yang pernah memperkuat AURI sebanyak 24 unit, yang dipersiapkan untuk pembebasan Irian Barat, membuat pesawat intai U-2 AS yang terbang dari Filipina menuju Darwin secara diam-diam memotret jejeran MiG-21 serta Tu-16 di Iswahjudi, Madiun. Belanda yang mengetahui  hasil potretan tersebut ketar-ketir dan memilih penyelesaian Irian Barat melalui perundingan damai di PBB. Era 60-an merupakan era-nya kekuatan militer Indonesia terkuat se-belahan Bumi Selatan.


MiG-21 juga dikenal sebagai alat gertak yang ampuh terhadap musuh-musuh Soviet yang berani mengganggu Soviet atau sekutunya kala itu. Misalnya, ketika Blok Barat ribut-ribut dengan Nikaragua th. 1983, kegentingan mereda kala Soviet mengirimkan MiG-21 nya. Kuba yang pernah menjadi musuh bebuyutan AS memborong MiG-21 dalam berbagai varian sebanyak 270 unit.


Filosofi Uni Soviet, sederhana namun tangguh, yang diterapkan pada alutsista buatannya termasuk MiG-21 mampu menggetarkan Blok Barat. Sistem yang dioperasikan terbilang tidak rumit & mudah dipelajari. Apalagi untuk melakukan penadaratan pendek (400 m), pedal tidak harus diinjak sekuat tenaga karena adanya sistem rem parasut yang bekerja otomatis. 



Sayapnya yang delta & tipis dapat meningkatkan kecepatan MiG-21 ketika terbang lurus. Tapi kecepatan akan turun saat MiG-21 melakukan manuver tajam. Mesin Tumanski dengan berat total 16.500 lbs (7.500 kg) membuat bobot pesawat menjadi ringan. Thurst weight ratio yang dimiliki MiG-21 merupakan TWR paling baik (5:1). Mesin Tumanski yang ketika bekerja tidak mengeluarkan asap, membuat Blok Barat kelimpungan.



MiG-21 mampu mendarat di landasan kasar seperti tanah kering tanpa masalah. Contohnya, pilot-pilot MiG-21 AURI melakukan latihan di Kemayoran, sempat ada pesawat yang overshoot & masuk sawah. Kondisi pesawat ternyata baik-baik saja. Begitu pun dengan pilot pun selamat, sebab sewaktu eject akan terlontar bersama kanopi, setelah melayang di udara kanopi lepas & pilot diselamatkan oleh parasut. Teknik eject macam ini memberikan rasa aman kepada pilot agar tidak terjadi benturan terhadap kanopi. Namun pada ketinggian rendah sistem ejectnya mengalami masalah karena waktu yang dibutuhkan untuk terpisahn ya kursi lontar & kanopi butuh waktu lama.




MiG-21 Fishbed J merupakan MiG-21 generasi ketiga, sudah diproduksi di India dengan penambahan berupa pemasangan mesin baru Tumanski R-13-300 & bahan antipanas dari titanium serta penambahan perangkat avionik. MiG-21 yang tergolong paling canggih adalah MiG-2ibis. Pesawat yang telah ditingkatkan daya mesin, avionik, & persenjataan ini kemudian ditingkatkan menjadi pesawat yang lebih canggih, MiG-23. 


Namun kapasitas bahan bakarnya sebanyak 1.470 liter serta tangki cadangan 490 liter, membuat MiG-21 hanya mampu terbang selama 1,5 jam. Kejadian unik semasa Bung Karno berkuasa, MiG-21 yang terlanjur terbang untuk berparade, buru-buru mendarat karena tak sanggup menunggu BK yang hobi berpidato berjam-jam.


Wajar saja, MiG-21 dirancang sebagai interceptor, sehingga kapasitas bahan bakar pun memang terbatas. Kehabisan bahan bakar setelah mendarat yang banyak dialami pilot-pilot TNI AU dahulu adalah kesalahan dari operasi, mengapa pesawat interceptor dibawa terbang sampai jauh. 




Radar yang digunakan pun dibandingkan dengan penempur AS masih ketinggalan. AS menjuluki radar MiG-21 sebagai radar antik "Jay Bird" Radar MiG-21 hanya sanggup menjangkau posisi musuh sebesar 20 mil saja, sehingga pilot perlu mengutamakan pendangan visual, yang sangat bergantung pula dengan cuaca.






SPESIFIKASI:








  • Negara produsen: Rusia (Uni Soviet), China
  • Pabrik  :
  1. Mikoyan-Gurevich Rusia
  2. Xian Aircraft (China) @ Shenyang, Chengdu & Guizhou
  • Versi Rusia

  1. MiG-21F Fishbed C
  2. MiG-21PF Fishbed D
  3. MiG-21PFM Fishbed F
  4. MiG-21R Fishbed H
  5. MiG-21S Fishbed H
  6. MiG-21RF Fishbed H
  7. MiG-21SM Fishbed J
  8. MiG-21M (Type 96/Hindustan Aeronautics-India)
  9. MiG-21PFMA Fishbed J
  10. MiG-21MF Fishbed J
  11. MiG-21SMT Fishbed K
  12. MiG-21SMB Fishbed K
  13. MiG-21bis-A Fishbed L
  14. MiG-21bis-B Fishbed N
  15. MiG-21U Mongol A
  16. MiG-21US Mongol B
  17. MiG-21UM Mongol B
  • Versi China
  1. J-7 / F-7 Fishbed
  2. J-7 II / F-7B Fishbed
  3. J-7 III Fishbed
  4. F-7M Airguard
  5. F-7P Skybolt

Data Teknis

  • WingSpan (rentang sayap) 23 ft. 6 in.
  • Length (panjang) 51 ft. 9 in.
  • Height (tinggi) 15 ft. 9 in.
  • Weight (berat) 18.080 lbs. max.
  • Mesin:
  1. MiG-21 = Tumansky R-11F-300 @ 12,675 lbst w/afterburner
  2. J-7 III = Wopen-13 turbofan @ 14,550-lbst
  • Kru penerbang pilot tunggal
  • Kecepatan Maksimum 1.300 mph.
  • Kecepatan jelajah 550 mph.
  • Jarak tempuh (Range) :
  1. MIG-21 = 400 mi range
  2. MIG-21bis = 600 nm range
  3. J-7 = 230 mi / 370 km lo-lo-lo radius
  4. J-7B = 375 mi / 600 km radius w/ 2 PL-2 AAM + internal fuel
  5. J-7B = 450 mi / 750 km radius w/ 2 PL-2 AAM + drop tanks
  6. J-7M = 550 mi / 875 km radius w/ 2 PL-2 AAM + drop tanks
  7. J-7 III = 525 mi / 850 km radius hi-hi-hi air superiority w/ 2 AAM + drop tanks
  8. J-7 III = 340 mi / 550 km radius lo-lo-hi ground attack w/ 2 bombs + drop tanks
  9. J-7 III = 1.350 mi / 2.200 km ferry range
  • Ketinggian Jelajah 14000 meter
  • Kapasitas Bahan Bakar internal
  1. 2277 kg MIG-21pfs
  2. 2364 kg MIG-21bis
  3. 869 kg J-8
  • In-Flight Refueling (kapasitas pengisian bahan bakar diudara): -
Drop Tank (Tanki bahan bakar cadangan):
  1. MIG-21bis = Drop tank with 391kg of fuel for 51nm range
  2. MIG-21bis = Drop tank with 631kg of fuel for 80nm range
  3. MIG-21bis = Drop tank with 391kg of fuel for 50nm range
  4. J-7 = 800 l drop tank with 639kg of fuel for 111nm range
  • Take-Off Runway (kecepatan lepas landas)
  1. F-7M = 700-950 m
  2. J-7 III = 800 m (2,625 ft) with afterburning
  • Landing Runway (kecepatan mendarat)
  1. F-7M = 600-900 m with brake-chute
  2. J-7 III = 550 m with flap blowing, drag-chute and brakes
  • Sensor
  1. MIG-21pfs = Spin Scan (R1L) radar, RWR, Balistic bombsight
  2. MIG-21bis = Jay Bird radar, RWR, Balistic bombsight
  3. J-7 = Type 222 ranging radar, RWR, Ballistic bombsight
  • Armament (Senjata)
  1. One NR-30 30mm cannon plus
  2. MIG-21pfs = K-13 AA-2 atoll, FAB-500, FAB-250, UV-16-67 rocket pods
  3. MIG-21bis = UV-69 57 rocket pods, AA-8 Aphid, FAB-250, FAB-500
  4. J-7 = 2 PL-2 or PL-7 AAM and 1 800 L drop tank (685 nm)

Negara pengguna

Afganistan, Albania (J-7), Aljazair, Angola, Azerbaijan, Bangladesh, Bulgaria, Myanmar, Kamboja, Cina (J-7), Kongo, Kroasia, Kuba, Ceko, Mesir, Ethiopia, Finlandia Jerman Timur, Guyana, Hongaria, India, Indonesia, Iran, Irak, Kazakhstan, Laos, Libya, Madagaskar, Mali, Mongolia, Mozambik, Nigeria, Korea Utara, Yaman, Pakistan (J-7), Polandia Rumania, Slovakia, Sri Lanka, Sudan, Syria (Suriah), Tanzania, Vietnam, Yugoslavia (Serbia-Montenegro), Zambia, Zimbabwe




Sumber: 

Edisi Koleksi Angkasa, The Most Famous Jet Fighters
id.wikipedia.org

Minggu, 29 Juli 2012

Tupolev Tu-16, Legenda Bomber Strategis Milik Indonesia Asal Beruang Merah (3)



Akhir dari Tu-16 sangatlah tragis. Pengadaannya & penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: Politik! Menurut Bagio, mantan anggota Skatek 042, AURI harus menghapuskan seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 & T-33 dari AS.

Tu-16 memang maju pada jamannya. Dilengkapi perangkat elektronik yang canggih, badannya yang kukuh, karena tidak mempan dibelah dengan kapak besar. Sambungan sayap dan mesin pun tak kuat dibelah dengan las besar. Itu karena campuran magnesiumnya lebih banyak daripada alumuniumnya.



Bukannya Tu-16 tanpa cacat. Beberapa bagian pesawat ada yang tidak cocok dengan  spare pengganti bahkan spare yang diambil secara kanibal. Seperti blister (kubah kaca), harus diamplas agar sesuai dengan kedudukannya. Belum lagi masalah suku cadang. Pengadaan yang rumit karena hanya ada di Kemayoran & Ujung Pandang. Suku cadang yang dipasok memang cukup memadai, namun masalah politik yang membelitnya sangat kuat. Nasibnya yang tak jelas kemudian, membuat AURI pernah berminat untuk menjualnya ke Mesir. 

Menurut Suwandi Sudjono, pilot Tu-16, menerbangkan Tu-16 dalam setahun hanya 12 kali (pasca G30S). Kanibalisasi pun dilakukan agar pesawat tetap bisa terbang. Oktober 1970 dilakukan test flight Tu-16, no. M-1625 setelah kanibalisasi habis-habisan. Memang banyak spare yang tidak cocok, namun menurut Subagyo, Komandan Wing Logistik 040, mesinnya masih ada 20 mesin, namun tanpa suku cadang lainnya. Pada hari itu pula Tu-16 M-1625 merupakan pesawat terakhir yang siap terbang!










Farewell flight (penerbangan perpisahan) dilakukan para awak Tu-16 pada Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Tu-16 dengan nomor M-1625 ditumpangi 10 orang, terbang dari Madiun ke Jakarta. "Sempat kesasar waktu kita cari Monas," ujar Zainal Sudarmadji. Saat kembali ke Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem mendadak.



Namun Tu-16 AURI memang memberi efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Sudjijantono, pilot  Tu-16 angkatan Cakra I menuturkan, bahwa namanya masih terpampang sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay.



Awal 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan hanya 15-20% pesawat AURI yang dapat terbang, sedangkan AURI hanya 40%, karena tidak ada suku cadang dari Soviet. Tahun 1970, dikenang sebagai tahun pemusnahan senjata dari Blok Timur.



Sumber: 
Edisi Koleksi Angkasa, Pesawat Kombatan TNI AU
(dengan sedikit perubahan kata-kata)

sumber gambar:
indoflyer.net

Sabtu, 21 Juli 2012

Tupolev Tu-16, Legenda Bomber Strategis Milik Indonesia Asal Beruang Merah (2)



Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada di puncaknya, yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan terbesar di belahan Bumi Selatan. AURI juga turut mendukung Operasi Trikora, dengan menyiapkan 1 Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan waktu 1,5 jam dari Madiun. Menurut salah satu pilot Tu-16, Kol. (Pnb) Sudjijantono, mereka selalu siaga 24 jam disana. Sesekali terbang untuk memanaskan mesin, namun belum pernah kontak senjata dengan pesawat Belanda. Diantara pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yakni kapal induk Belanda, Karel Doorman.



Tu-16 memang menjadi momok menakutkan bagi Belanda, terutama versi Tu-16 KS-1 (Badger B) milik Skadron 42, yang mampu menggotong sepasang rudal anti-kapal KS-1 Kennel. Karena hantaman 6 Kennel mampu menenggelamkan Karel Doorman! Namun sampai akhir permasalahan Irian Barat diselesaikan di meja PBB atas inisiatif Presiden AS Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan.



Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus tail gunner (penembak ekor) Tu-16. Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, awak Tu-16 disiagakan Morotai. Mereka memonitor perundingan dengan berbekal radio transistor. Perintah yang dikeluarkan apabila perundingan gagal adalah langsung Bom Biak. "Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom," ujar Sjahroemsjah (waktu itu berpangkat Sersan Udara I). Istilahnya one way ticket operation.


Bagi awak Tu-16 yang siaga di Morotai, tidak pernah melupakan jerih payah ground crew. Yakni ketika isi bahan bakar. Untuk satu Tu-16 memerluka 70 drum bahan bakar. Kadang diangkut tidak pakai pesawat, sehingga harus diturunkan dari kapal di tengah laut, kemudian didorong ke darat. Belum berakhir sampai disitu, untuk mengisi kurang lebih 45.000 liter ke dalam tangki pesawat harus memakai cara manual, yakni disuling satu persatu hingga empat hari empat malam. Tu-16 di Morotai hanya sebulan sebelum kembali ke Madiun usai Trikora.


Soal rudal Kennel, memang belum pernah ditembakkan, namun ujicoba pernah dilakukan sekitar th. 1964-65. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang yang terletak diantara Bali & Ujung Pandang. "Nama pulaunya Arakan," ujar mantan reporter TVRI, Hendro Subroto. Hendro mengikuti dari pesawat C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani saat ujicoba tersebut. Hercules kemudian mendarat di Denpasar, kemudian menumpang heli Mi 6 untuk melihat perkenaan. "Tepat di tengah, plat bajanya bolong," ujar Hendro.








Di masa kampanye Dwikora-lah, awak Tu-16 membuktikan ketangguhan sang Bomber. Berkali-kali Tu-16 di-intercept (disergap) oleh pesawat Inggris. Rupanya Inggris telah menyadap pembicaraan mereka di Polonia, Medan dari Butterworth, Penang. Salah satu penerbang Tu-16 yang pernah disadap & diintercept yakni Marsekal Muda (Purn) Syah Alam Damanik. Penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di Selat Malaka, pernah disergap pada tahun 1964 oleh pesawat Javelin. Saat itu ia terbang bersama kopilot Sartomo, navigator Gani & Ketut.



Gani menyarankan agar pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur. Saat sudah dekat dengan Butterworth, Penang, seorang awak melaporkan pesawat Inggris, Javelin take-off  dari Penang. Damanik pun membelokkan pesawat. Celaka, ketika pesawat belok Javelin sudah di kanan kiri sayap. Javelin berusaha untuk mendaratkan Tu-16 untuk mendarat (forced down) di Malaysia atau Singapura. Damanik memerintahkan agar semua awak siaga, ia memerintahkan apabila ada semburan api dari Javelin (menembak), langsung balas. Perkiraan Damanik sama-sama jatuh. Anggota Wara (Wanita Angkatan Udara) yang ikut, ketakutan, wajah mereka pucat pasi.


Javelin yang berada di kiri kanan sayap pesawat membuat sayap pesawat bergetar karena kecepatannya yang melebihi batas (di atas mach 1). Namun, Damanik membuktikan kehebatan Tu-16, yakni menambah ketinggian pesawat secara mendadak sehingga membuat Javelin kebablasan. Sambil bersembunyi di atas awan, pesawat pun diarahkan ke Medan.


Lain Damanik, Lain Sudjijantono. Ia ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat Selat Malaka (saat Dwikora disiagakan 2 Tu-16 di Medan). Tu-16 yang diterbangkannya terbang dari Madiun, menuju P. Cocos, P. Christmas, Kep. Andaman Nikobar, lalu ke Medan. Tu-16 berikutnya terbang melalui Selat Makassar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut China Selatan, Selat Malakka, lalu ke Medan. Bahkan, ada juga yang nekat melewati Tanah Genting Kra. Namun misi tersebut tetap sesuai perintah BK, yakni tidak menembak sembarangan. Misi yang berbau pengintaian ini juga sempat ketahuan Javelin. Namun Javelin hanya bertindak sebagai "polisi", mengingatkan agar Tu-16 jangan keluar perbatasan.


Pertengahan 1963, AURI memerintahkan 3 Tu-16 untuk menyebarkan pamflet di wilayah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satu pesawat ke Sandakan & Kinibalu (keduanya wil. Malaysia), yang ketiga ke Australia. Khusus yang ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara Suwondo, bukan menyebarkan pamflet namun berupa perlengkapan militer seperti parasut, alat komunikasi, & makanan kaleng. Rencananya muatan tersebut akan di-drop di Alice Springs, tepat ditengah benua Australia. Hal itu untuk membuktikan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua tersebut. "Semacam psy-war buat Australia," ujar Salatun. 


Di Alice Springs ditongkrongi over the horizon radar system. Menurut Marsma (Purn) Zainal Sudarmadji (pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II), radar tersebut berfungsi untuk memantau seluruh wilayah Asia Pasifik. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam 1 malam. Pesawat kemudian terbang rendah untuk menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia & menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. F-86 Sabre serta rudal anti pesawat Bloodhund juga tidak terlihat kemunculannya. Pesawat sampai di Madiun ketika matahari sudah agak tinggi.


Misi penerbangan ke Sandakan dipercayakan oleh Sudjijantomo & Letkol Sardjono. Berangkat dari Iswahjudi pukul 12 malam, pesawat terbang hingga ketinggian 11.000 m, dan sampai di Sandakan menjelang adzan Subuh. Lampu rumah penduduk masih menyala, kemudian pesawat turun hingga 400 m. Persis di atas target, bomb bay pun dibuka, pamflet pun bertebaran. Pesawat kemudian berputar, kembali ke lokasi semula. Ternyata gelap, tidak ada satupun rumah penduduk yang menyala. Rupanya Inggris mengajari penduduk mengantisipasi serangan udara. Pesawat kemudian kembali ke Iswajudi pukul 08.30 pagi. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.




(bersambung ke bagian 3)



Sumber:
-Edisi Koleksi Angkasa, Pesawat Kombatan TNI-AU
 (dengan sedikit perubahan kata-kata)

Jumat, 20 Juli 2012

Tupolev Tu-16, Legenda Bomber Strategis Milik Indonesia Asal Beruang Merah (1)

Indonesia pernah menjadi negara dengan kekuatan militer terbesar di Asia, bahkan di belahan bumi selatan. Kekuatan Indonesia yang pada saat itu bertumpu pada alutsista buatan Blok Timur, seperti MiG-21 &Tu-16..



Pada waktu itu, Indonesia merupakan negara keempat yang mengoperasikan pesawat pembom. Indonesia juga negara pertama  di belahan bumi selatan yang mengoperasikan jet tempur berkecepatan Mach 2. Tu-16 dibeli untuk menutupi kemampuan B-25 yang terbatas, yang kala itu AURI harus melawan AUREV (AU Permesta). B-25 yang ada saat itu malah merepotkan, karena daya jelajahnya terbatas, sehingga pangkalannya harus digeser. Hal yang tidak efektif tersebut diperparah ketika AS mengembargo suku cadangnya.

Saat itu keberadaan Tu-16 memang menakutkan. Dengan jangkauan terbang hingga 7200 km, kecepatan hingga 1050 km/jam, dan ketinggian terbang hingga 12800 km, wajar saja membuat AURI disegani. Tu-16 dioperasikan dibawah kendali Wing Operasi 003, membawahi Skadron 41 (14 unit Tu-16 Badger A) dan Skadron 42 (12 unit Tu-16 Badger B KS).


Awalnya, Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Tu-16 kepada Indonesia. Menurut Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov Tu-16 masih dalam pengembangan & belum siap untuk dijual. AURI ngotot. BK (Bung Karno) terus menguber Zhukov tiap kali bertemu. Zhukov pun kemudian melaporkan keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Mengapa BK begitu semangat? Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. "Saya ditugasi Pak Surya (S. Suryadarma - KSAU/Menpangau periode itu)menagih janji kepada BK setiap ada kesempatan"

Salatun menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, kemudian menyampaikan kepada Suryadarma. "Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh  sekalipun dan kembali sebelum makan siang", jelasnya kepada KSAU. "Bagaimana pangkalannya?" tanya Pak Surya. "Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet", jawab Salatun. Seiring rencana pengadaan Tu-16, landas pacu Lanud Iswahjudi, Madiun, turut diperpanjang



Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, baru terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Ketika lobi pembeliannya tersekat dalam ketidakpastian, Cina pernah dilirik agar membantu menjinakkan “beruang merah”. Caranya, Cina diminta menalangi dulu pembeliannya. Namun usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan Cina-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya, “Malah Cina menawarkan Tu-4M Bull-nya,” tutur Salatun. Misi Salatun ke Cina sebenarnya mencari tambahan B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

Pemilihan Tu-16 bukanlah semata alat diplomasi, melainkan karena embargo senjata AS. Apalagi pada saat bersamaan AURI butuh suku cadang B-25 & P-51 untuk menghantam AUREV. 



1960, Salatun berangkat ke Moskow bersama delegasi pembelian senjata yang dipimpin jendral AH Nasution. Mereka hanya diperintahkan BK hanya untuk cari senjata. Betapa kagetnya delegasi ketika Tu-16 masuk kedalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. "Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan kepada negara sahabat lain"
Hebatnya lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan cat anti radiation paint, yakni cat anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. "Gertak musuh saja, AURI kan tak punya bom nuklir", tutur Salatun. Usul ditolak.

AURI dengan segera mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Cekoslovakia & Rusia. Angkatan tersebut dikenal sebagai angkatan Cakra I, II, III, & Ciptoning I & II. Mulai 1 Juli 1961, 24 pesawat Tu-16 mulai datang bergiliran, diawaki oleh awak Rusia maupun Indonesia. Pesawat pertama dengan registrasi M-1601 yang diterbangkan Komodor Udara Cok Suroso Hurip mendarat di Kemayoran. 



Hal tersebut mengundang perhatian dari kalangan luas, terutama intel AS. Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dari dekat, memberi kesempatan untuk mengetahui kapasitas bahan bakar & daya jelajahnya. Pesawat intai U-2 Dragon Lady pun dilibatkan. Pengintai tersebut melihat Tu-16 serta jet tempur Blok Timur yang amat ditakuti Barat berjejer di Iswahjudi, Madiun.

(Bersambung ke bagian 2)

Sumber:

Edisi Koleksi Angkasa: Pesawat Kombatan TNI-AU

Selasa, 17 Juli 2012

Aerosmith - I Don't Want To Miss A Thing

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you is a moment I treasure

Don't wanna close my eyes
I don't wanna to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Lying close to you feeling your heart beating
And I'm wondering what's your dreaming
Wondering if it's me you're seeing
Then I kiss your eyes
And thank God we're together
I just wanna stay with you in this moment forever
Forever and ever

I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't wanna miss one smile
I don't wanna miss one kiss
I just want to be with you
Right here with you, just like this
I just want to hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time

Don't wanna close my eyes
Don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Don't want to close my eyes
I don't, I don't want to fall asleep
And I don't want to miss a thing

Jumat, 27 April 2012

29 Juli 1947, Misi Pemboman Udara Pertama & Jatuhnya Pesawat Dakota VT-CLA

Tanggal 29 Juli merupakan salah satu sejarah yang monumental, yakni terjadinya dua peristiwa penting dalam satu hari. Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai Hari Bhakti TNI-AU.


Misi Pemboman Udara Pertama





Pesawat K5Y Churen milik Indonesia


Tanggal 29 Juli 1947, pagi hari, dua pesawat K5Y Churen dan satu Guntei, melakukan serangan udara terhadap target Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Kejadian ini bagai petir di siang bolong buat Belanda. Seperti apa kejadiannya?




Sudaryono


Setelah semua siswa dinyatakan lulus, Oleh Suryadarma mereka disebar ke Maospati, Bugis, Tasikmalaya, Kalijati, dan Yogyakarta. Tugasnya untuk mengaktifkan pangkalan. Beberapa hari sebelum tanggal 29 Juli, Sudaryono & Suharnoko Harbani mendapat perintah kembali ke Yogyakarta. Perintahnya tidak jelas, sehingga ketika sampai di Yogyakarta malam hari, Sudaryono memilih untuk beristirahat di Hotel Tugu, bukan langsung masuk ke pangkalan. Besok paginya, Sudaryono memasuki pangkalan dan kemudian mengetahui apa yang terjadi. Satu pesawat Churen diterbangkan oleh Sutardjo Sigit & Sutardjo sebagai air gunner, menuju ke sasaran yakni Kota Salatiga. Sedangkan satu Churen lagi diterbangkan oleh Suharnoko Harbani dan Kaput sebagai air gunner, menuju sasaran ke Kota Ambarawa. Serta satu Guntei dengan pilot Mulyono dan Dulrachman sebagai air gunner, menuju sasaran ke Kota Semarang. 



Merencanakan serangan balasan


Tidak tahu siapa yang mengatur operasi ini, mengingat Adisutjipto sedang ke luar negeri dengan pesawat maskapai India (dikenal sebagai Dakota DC-3 VT-CLA). Apakah Suryadarma? "Saya kira Pak Halim", aku Sudaryono. Halim Perdanakusuma adalah mantan navigator AU Inggris selama masa kampanye di Afrika, terbang dengan B-24 Liberator. 


Dalam pemboman di ketiga lokasi, bom disiapkan oleh mantan perwira logistik semasa pendudukan Belanda, yakni Kapten Edi. Setelah menyelesaikan misi, mereka pun mendarat di Semarang, untuk menghindari pembalasan Belanda apabila mendarat di Yogyakarta. 






Jatuhnya Pesawat DC-3 Dakota VT-CLA (Peristiwa Ngoto Membara)


Setelah sukses dengan misi pengeboman atas target Belanda, sore harinya, pesawat Dakota DC-3 (registrasi:VT-CLA) milik maskapai penerbangan India, jatuh sesaat sebelum memasuki Bandara Maguwo, di Yogyakarta. Tepatnya di Desa Ngoto. Pesawat tersebut mengangkut obat-obatan serta 6 orang penumpang serta 3 orang awak pesawat. Pesawat berangkat dari Singapura menuju Maguwo (Yogyakarta), telah didaftarkan sebagai penerbangan bantuan kemanusiaan. Pesawat tersebut jatuh karena di tembak oleh pesawat pemburu Belanda berjenis P-40 Kittyhawk yang bermarkas di Kalibenteng (Semarang). 




Reruntuhan Dakota DC-3 VT-CLA



P-40 Kittyhawk 


Korban tewas dari tragedi ini adalah termasuk tiga orang perintis TNI-AU, yakni Komodor Muda Adisutjipto, Komodor Muda Abdulrahman Saleh, serta Opsir Udara I Adi Soemarmo. Satu lagi dari Indonesia yaitu Zainal Arifin. Sedangkan dari warga asing yaitu Alexander Noel Constantine (pilot - warga negara Australia), Roy L. Hazelhurst (copilot - warga negara Inggris), Bhida Ram (enginer - warga negara India), serta Ny. Constantine (istri pilot). Hanya satu korban selamat, yakni Abdul Gani Handojotjokro. 


Tragedi jatuhnya pesawat ini menuai kontroversi. Pilot Belanda menyebutkan bahwa pesawat tersebut terbang rendah dan tersungkur setelah menabrak tanggul dan pepohonan. Namun menurut kesaksian warga sekitar, terlihat pesawat dikejar dan ditembaki sehingga mesin kiri terbakar dan jatuh. Pernyataan tersebut diperkuat oleh H. Sardjono, yang mengatakan "ada bekas lobang peluru di pesawat dan di tubuh Adisutjipto!". 




Dari kiri ke kanan: Adisutjipto, Abdulrahman Saleh, Adi Soemarmo


Nama ketiga perwira AURI tersebut nantinya akan diabadikan sebagai nama pangkalan udara di Indonesia. Adisutjipto nama pengganti untuk Pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta), Abdulrahman Saleh nama pengganti untuk Pangkalan Udara Bugis (Malang), Adi Soemarmo nama pengganti untuk Pangkalan Udara Panasan (Solo).  Ketiganya pun diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keppres 071/TK/1076, pada tanggal 9 November 1974.


Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/78/VII/2000 tanggal 17 Juli 2000 tempat jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di desa Ngoto, diresmikan menjadi Monumen Perjuangan TNI AU. Bersamaan dengan peresmian ini, dipindahkan pula kerangka jenasah Marsda TNI (anumerta) Adisucipto dan Marsda TNI (anumerta) Abdulrachman Saleh beserta istri dari TPU Kuncen Yogyakarta ke pemakaman TNI AU Ngoto Yogyakarta.


Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Yogyakarta







Sumber:
http://www.tandef.net/hari-bakti-tni-au-29-juli-serangan-udara-pertama-oleh-auri-terhadap-kekuatan-belanda


http://tni-au.mil.id/kotama/riwayatmu-doeloe-halaman-5


http://salamgowes.wordpress.com/2011/08/17/dakota-vt-cla-29-juli-1947/


http://indonesiandefense.blogspot.com/2011/08/dakota-vt-cla-dan-cureng-tni-au.html


image.google.co.id


wp.scn.ru


Majalah Angkasa Edisi Agustus 2011 Th. XXI

Edisi Koleksi Angkasa: PESAWAT KOMBATAN TNI AU