Jumat, 30 Desember 2011

Kapal Induk ADMIRAL KUZNETSOV


Admiral Kuznetsov atau lengkapnya adalah Admiral Sovetskogo Soyuza Kuznetsov (Адмирал флота Советского Союза Кузнецов), merupakan satu-satunya kapal induk warisan Uni Soviet, yang dimiliki oleh negara pecahannya yang paling besar, yaitu Rusia. Sungguh ironis memang. Padahal, dulu Uni Soviet memiliki kapal-kapal induk yang ditakuti oleh Barat, seperti Minsk dan Kiev. Namun kedua kapal tesebut sudah pensiun. Minsk sendiri dibeli oleh China, yang kemudian dijadikan monumen. Masih ada satu lagi kapal yang sejenis dengan Admiral Kuznetsov, yaitu Varyag, yang dibeli oleh China melalui Ukraina.

Kapal induk satu-satunya milik Rusia kini, Admiral Kuznetsov, mulai aktif penuh tahun 1995 dan terhitung baru namun tenaga yang dipakai adalah konvensional atau non-nuklir. Kapal induk ini memang masih miskin pengalaman perang karena Rusia sejak pecah tidak pernah terlibat peperangan. Kegiatan kapal perang ini kebanyakan selama ini adalah tur ke berbagai lautan dan juga terlibat dalam latihan pernag hanya itu, apalagi Rusia yang kini juga tengah masih terlibat kesulitan keuangan membuat pengoperasian kapal induk ini juga menjadi terbatas. Admiral Kuznetsov diperkirakan akan tetap mengabdi kepada angkatan laut Rusia minimal hingga tahun 2030.

Berikut ini adalah data teknis sekilas Admiral Kuznetsov:

Tipe : Kapal induk kelas menengah
Bobot : 67 000 ton Inggris (68 100 ton metrik)
Dimensi : Panjang (300 m) Beam*) (73 m) Draft*) (38 m)
Tenaga : Turbin uap, 9 turbogenerator, 6 diesel generator
Awak : 1960
Specifications
Designer: Nevskoye Planning and Design Bureau
Builder: Chernomorsky [Nikolayev South]
Displacement (tons): 36,000 tons standard; 38,000 tons standard [Gorshkov]; 43,000-43,500 tons full load; 45,000-45,500 tons full load [Gorshkov]
Speed (kts): 32 knots

Dimensions (m): 249.5-257.0 meters long waterline; 273.0-274.0 meters long overall; 32.6-32.7 meters waterline beam; 3.0 meters flight deck width; 9.5 meters draft standard; 12.0 meters draft mean full load
Propulsion: 8 turbopressurized boilers; 4 steam turbines; 200,000 shp; 4 shafts
Crew: 1,200-1,600 (including air group)

















Senin, 05 Desember 2011

IAI Harop

IAI Harop merupakan satu-satunya UCAV(Unmanned Combat Air Vehicle) non-AS yang sudah operasional. Harop merupakan UCAV yang paling "nyeleneh". Klasifikasi Harop sebagai UCAV pun kerap dipertanyakan. Pasalnya UCAV yang dilansir IAI (Israel Aerospace Industries) bukanlah wahana nir awak yang memboyong senjata. Justru sosok Harop sendiri keseluruhan merupakan senjata karena dilengkapi hulu ledak yang akan melumat sasarannya begitu menabrak sasarannya.

Keberadaan Harop sendiri diumumkan tahun 2009 lalu. Harop didesain untuk misi-misi SEAD (Suppression of Enemy Air Defense)-yakni menetralisir ancaman hanud lawan. Harop mengarungi kawasan udara di sekitar target, melokalisasi kemudian menjejak sasarannya lalu mencari kesempatan serta sudut perang yang pas. Selanjutnya Harop akan meluncur menukik dan menghujam targetnya.

Melihat profil misinya, Harop lebih pantas disebut sebagai rudal jelajah. Namun yang sangat membedakannya dengan rudal jelajah adalah mampu membatalkan misinya lalu kembali ke pangkalan.


SPESIFIKASI


Kontraktor Utama: IAI
(Israel Aerospace Industries)
Status: tahap awal operasional
Dimensi
Panjang: 2.5 m
Rentang Sayap: 3 m
Kecepatan: low subsonic

Jangkauan: 1.000 km
Ketinggian max.: dirahasiakanMiring


Sumber: Majalah ANGKASA, Edisi Agustus 2011 (No. 11 Agustus 2011 Th.XXI)

Minggu, 04 Desember 2011

Sukhoi Su T-50 PAK-FA, Penempur Udara Berteknologi Siluman dari Negeri Beruang Merah







Dulu, pada masa Perang Dingin tepatnya, berseteru dua negara yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kedua negara adidaya tersebut berlomba-lomba mengembangkan IPTEK di bidang militer untuk menunjukkan siapa yang terkuat. Mulai dari peralatan militer hingga perulu kendali berhulu ledak nuklir jarak jauh, membuat mereka menjadi dua negara yang memiliki kekuatan militer raksasa.

Namun sejak jatuhnya rezim komunis di Uni Soviet yang berujung pada perpecahan pada 1991, membuat pamor Rusia terus turun. Ketika Amerika Serikat mengeluarkan penempur barunya, F-22 Raptor, membuat Rusia seperti tidak mampu unjuk gigi.





 

Tapi, di tahun 2010, Rusia menunjukkan kekuatannya kembali, yaitu menguji coba penempur udaranya yang terbaru. Yakni, pesawat tempur generasi kelima dengan kemampuan stealth, yang mampu menyaingi kehebatan dan kecanggihan F-22, yaitu Sukhoi T-50 PAK-FA. Sukhoi T-50 PAK-FA dikeluarkan oleh biro desain Sukhoi OKB, Rusia.

Untuk masalah harga, Sukhoi T-50 PAK-FA jauh lebih murah ketimbang F-22 Raptor. PAK-FA memiliki harga sekitar US$ 50-100 juta per unit, sedangkan F-22 seharga sekitar US$ 142 juta per unit.
Dan tidak seperti F-22 yang tidak untuk dijual ke luar Amerika, Sukhoi PAK-FA ditujukan untuk diekspor ke negara manapun yang ingin membelinya. Dan untuk Indonesia, tidak menutup kemungkinan untuk menambah Sukhoi T-50 PAK-FA ke dalam daftar alutsista TNI AU.

SPESIFIKASI:
Sukhoi T-50 PAK-FA (
Perspektivny Aviatsionny Kompleks Frontovoy Aviatsii)

Origin
Russia
Type
Stealth multirole fighter
Max Speed
2,100 - 2,500 km/h / 1,300 - 1,560 mph
Max Range
5,500 km / 3417 miles (Ferry range)
Dimensions
Span 14 m / 46.6 ft
Length 19.8 m / 65.9 ft
Height 6.05 m / 19.8 ft
Weight
Max. Takeoff 37,000 kg / 81,570 lb
Powerplant
2× New unnamed engine by NPO Saturn and FNPTS MMPP Salyut of 175 kN each. Prototype with AL-41F1 of 147 kN each, definitive version with new engine >157 kN
Armament
None on prototype. Apparent provision for a cannon (most likely GSh-301).Possible two 30mm cannons, two auxiliary internal bays for short range AAMS and six external hardpoints
Operators:
India (Ordered), Russia (Oredered)


Sumber:
http://imperiumindonesia.blogspot.com/2010/02/pesawat-tempur-tercanggih-sukhoi-pak-fa.html


http://www.combataircraft.com/en/Military-Aircraft/Sukhoi/PAK-FA/

Sabtu, 03 Desember 2011

A-4 Skyhawk Indonesia & Operasi Alpha

Suatu negara pasti menginginkan kedaulatan negaranya tetap terjaga. Maka untuk itu, perlulah suatu negara memiliki pertahanan yang baik yang didukung oleh alutsista yang handal. Hal tersebut juga tampaknya yang menjadi kebutuhan bagi Indonesia. Apalagi dengan wilayah kepulauan yang begitu luas, juga tuntutan era yang makin modern.
Indonesia pernah menjadi negara yang kekuatan militernya mampu "menggetarkan" belahan bumi Selatan. Berbagai alutsista yang dibeli dari Uni Soviet waktu itu dipersiapkan untuk menghadapi Belanda dalam Operasi Trikora, yaitu membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda. Namun, karena masalah politik (pasca G30S), pesawat-pesawat yang mampu menggetarkan belahan bumi Selatan itu harus dikandangkan. Hal tersebut juga disebabkan karena keterbatasan suku cadang.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan alutsista TNI, Indonesia kembali "berpaling" ke Blok Barat. Melalui proyek "Garuda Bangkit", Indonesia berhasil mendapat hibah pesawat tempur F-86 Avon Sabre dari Australia sebanyak 18 unit, lalu pesawat latih T-33A dari A.S sebanyak 16 unit. Namun, karena faktor usia pesawat tersebut tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Amerika Serikat bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II, tetapi hal itu dianggap belum cukup. Apalagi saat itu Indonesia harus menghadapi operasi militer lanjutan di Timor Timur. Maka itu, didatangkanlah pesawat tipe serang, yaitu A-4 Skyhawk.
A-4 Skyhawk didatangkan secara rahasia, melalui Operasi Alpha.
operasi rahasia antara TNI dan Militer Israel untuk membeli 32 pesawat tempur A-4 Skyhawk, melatih pilot Indonesia di Israel dan menyamarkan pesawat tempur itu agar bisa dibawa pulang.
Pihak intelijen mendapat informasi, Israel akan menjual 32 pesawat A-4 Skyhawk. Masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Selain tidak ada hubungan diplomatik, pembelian pesawat tempur ke Israel juga akan menuai protes keras dari masyarakat. Tapi pihak ABRI memutuskan operasi terus berlanjut.
Setelah mengirimkan teknisi, 10 Pilot TNI AU diberangkatkan ke Israel. Bahkan 10 pilot itu tidak tahu mereka akan diberangkatkan ke mana. Dalam buku autobiografinya, Menari di Angkasa, Djoko Poerwoko menceritakan pengalamannya.
“Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur,” tulis Djoko.
10 Pilot tersebut berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia dari Halim Perdana Kusuma ke Singapura. Setelah mendarat, di Singapura mereka dijemput oleh beberapa petugas intel ABRI. Mereka mulai sadar tidak akan diterbangkan ke AS, tetapi ke Israel. Sebuah negara yang sangat dibenci oleh masyarakat Indonesia.
Mayjen Benny Moerdani yang saat itu menjadi Kepala Badan Intelijen ABRI memberikan briefing. Ini misi rahasia. Jika misi gagal, pemerintah Indonesia tidak akan mengakui kewarganegaraan mereka. Benny juga memberikan pilihan jika ada yang ragu silakan kembali. Operasi ini dianggap berhasil jika pesawat tempur A-4 Skyhawk yang diberi kode ‘merpati’ sudah masuk ke Indonesia.
Berbagai pikiran berkecamuk di benak para pilot tersebut. Kaget dan bingung tentu saja. Tapi tidak ada yang mundur. Mereka pun diberi identitas palsu dan akhirnya siap diberangkatkan.
“Saat itu Benny Moerdani yang mengatur operasi Alpha. Tentu zamannya berbeda. Kalau dulu dengan kekuasaan tak terbatas yang dimiliki, ABRI bisa melakukan upaya semacam itu. Kalau sekarang tentu tidak bisa, karena menggunakan dana APBN, harus ada pertanggungjawabannya. Lagipula operasi semacam ini tentu melanggar prinsip keterbukaan. Belum lagi kerjasama dengan Israel, kalau dilakukan kini tentu Ormas-ormas Islam akan sangat keras menentang,” ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Rabu (10/8/2011).
Operasi Alpha digelar 31 tahun lalu. Misi khusus untuk membeli 32 pesawat tempur A-4 Skyhawk, melatih pilot TNI AU di Israel, dan membawa pulang pesawat ke Indonesia berlanjut. Dari Singapura, 10 Pilot TNI AU diterbangkan ke Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mereka tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.
Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, Mereka berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semuanya bingung dan jetlag. Begitu sampai di Tel Aviv, mereka ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. Semuanya hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya menunggu dengan hati berdebar.
Setelah memasuki ruang bawah tanah, dan melihat ada beberapa perwira intelijen ABRI, baru para pilot merasa tenang. Ternyata penangkapan hanya skenario saja agar mereka bisa keluar bandara dengan cepat tanpa diketahui.
Mereka langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Segala sesuatu yang yang terkait dengan Indonesia di-sweeping. Para pilot ini juga diajari sedikit bahasa Ibrani. Mereka diperintahkan mengaku pilot dari Singapura.
Mereka dibawa ke Pangkalan Udara di Kota Eliat. Pangkalan itu rahasia. Tidak ada nama resminya. Atas kesepakatan, selama latihan Pangkalan Udara itu dinamai ‘Arizona’. Karena resminya memang para penerbang itu akan dikirim ke Arizona. Di sana mereka berlatih dengan pesawat A-4 Skyhawk. Melakukan berbagai manuver, mengoperasikan pesawat tempur sebagai mesin perang, hingga menembus hingga perbatasan Suriah.
Setelah sekitar 4 bulan, Latihan terbang berakhir tanggal 20 Mei 1980. Para perwira lulus dan berhak mendapatkan ijazah dan brevet penerbang tempur. Namun para perwira intelijen ABRI yang hadir justru membakarnya di depan para pilot itu. Tentu saja untuk menghilangkan bukti bahwa pernah ada kerjasama militer RI dan Israel.
Para penerbang itu kemudian dibawa ke Amerika Serikat. Sekedar untuk berfoto-foto. Di manapun ada tulisan AS mereka disuruh berfoto. Ini untuk mengecoh, seolah-olah bahwa mereka memang dikirim ke AS, bukan ke Israel. Kepada para komandan di kesatuan pun, para pilot ini harus mengaku telah dilatih di AS, bukan Israel.
Kemudian Tanggal 4 Mei 1980, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, berlabel F-5. Saat itu Indonesia juga memang memesan pesawat F-5 Tiger dari AS. Jadi seolah-olah pesawat yang diangkut kapal laut itu adalah juga pesawat F-5. Secara bergelombang, pesawat-pesawat A-4 Skyhawk terus berdatangan.
Sesampainya di Indonesia, A-4 Skyhawk tersebut ditempatkan di Skadron 11 dan 12.
Semula Indonesia berencana mengoperasikan Skyhawk selama 10 tahun saja. Namun berkat upgrade oleh ahli dari Israel, keandalan di medan tempur, juga perawatannya yang cukup sederhana, mampu membuat pesawat ini bertahan selama 24 tahun.